SORONG, 27 Oktober 2026 – Letda Inf Jihad Ahmad Al-Rasyid, S.Tr.Han (Akmil 2024), perwira muda Kopassus Grup 2, tewas tertembak rekan sejawatnya di Solo, Jawa Tengah.
Terduga pelaku, Letda Inf Moch Alghifary Noorwindyaz, S.Tr.Han (Akmil 2025 A), disebut sebagai putra Mayjen TNI (Purn) Erwin Bambang Tetuko. Hingga kini keluarga korban belum menerima penjelasan utuh tentang apa yang terjadi di gudang senjata itu, dan keterangan satuan tidak cocok dengan apa yang mereka temukan pada jenazah.
Jihad adalah putra Mayor Inf Dr. H. Triyana, Kepala Penerangan Korem 181/PVT Sorong, dan Hj. Zainab Jelfoom, S.IP., Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kota Sorong. Jenazahnya tiba di Sorong, Papua Barat Daya, Minggu (25/10/2026), diantar Komandan Grup 2 Kopassus Brigjen TNI Edwin Apria Candra. Ia dimakamkan di Taman Makam Bahagia Sorong.
Menurut keluarga, satuan menyampaikan bahwa Jihad tertembak di perut seusai pengosongan senjata. Namun setelah kafan dibuka kembali, keluarga mengaku menemukan luka tembak di bahu kanan yang tembus ke belakang, serta lebam di leher.
Kronologi yang beredar di kalangan internal berbeda lagi. Alghifary disebut mengambil pistol di gudang senjata untuk persiapan pratugas.
Saat mengosongkan magasin, peluru yang tersisa terlepas, menembus pintu baja, dan mengenai Jihad yang berada di luar, tepatnya di pinggang. Versi ini belum dikonfirmasi TNI dan tidak menjelaskan luka di bahu maupun lebam di leher.
Alghifary disebut lulusan Akmil 2025, satu grup dengan korban. Ayahnya, Erwin Bambang Tetuko, pernah menjabat Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Universitas Pertahanan RI.
Di mata keluarga korban, perbedaannya begitu mencolok: satu keluarga berduka di tengah jarak ribuan kilometer, sementara keluarga terduga pelaku memiliki nama besar dan jaringan kuat di institusi yang sama. Pertanyaannya, akankah pengaruh nama besar itu membayangi penanganan perkara?
Perwakilan keluarga, Lantoga Sapua, mengatakan pihak yang mengantar jenazah hanya menyampaikan bahwa terduga pelaku telah diproses oleh satuan Kopassus. Kronologi, motif, status hukum, dan hasil pemeriksaan belum dijelaskan.
Belum ada informasi bahwa keluarga terduga pelaku telah menemui atau menyampaikan penjelasan langsung kepada keluarga korban.
“Kopassus hanya kehilangan satu prajurit terbaiknya, tapi kami keluarga besar kehilangan dia untuk selama-lamanya,” ujar keluarga di rumah duka, Jalan Kanal Victory, Sorong.
Keluarga meminta kasus ini diusut terang dan tuntas, termasuk lewat pemeriksaan forensik dan balistik yang terbuka.
“Setiap anak Papua yang meninggal tidak wajar saat bertugas harus diusut tuntas,” kata keluarga.
![Potret [setengah badan] seorang perwira muda TNI AD berseragam [loreng/PDU] dengan baret [warna], menghadap kamera.](/uploads/posts/post_620535b6ed53.jpg)