Jakarta – Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi berhasil mempersembahkan medali emas nomor speed putri pada IFSC World Cup Krakow 2026 di Polandia.
Prestasi itu sekaligus mengungkap cerita di balik keberangkatan tim Indonesia ke ajang tersebut, setelah pernyataan Desak soal minimnya kepastian dukungan pemerintah menjelang kompetisi ramai menjadi perbincangan publik.
Dalam sesi wawancara usai pertandingan, Desak mengungkapkan tim Indonesia sempat menghadapi kendala sebelum bertolak ke Polandia.
Ia menegaskan persoalan tersebut bukan berkaitan dengan kesiapan fisik maupun mental, melainkan ketidakpastian dukungan menjelang keberangkatan.
"Sebenarnya sebelum saya datang ke Krakow, kami memiliki masalah karena pemerintah tidak mendukung kami. Sekarang saya berharap pemerintah selalu mendukung kami untuk kompetisi berikutnya," ujar Desak.
Pernyataan itu menyebar luas di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan publik.
Menanggapi respons yang meluas, Desak kemudian memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menegaskan ucapannya bukan ditujukan untuk menyalahkan atau mengkritik pihak tertentu, melainkan sekadar menceritakan tantangan yang dihadapi tim Indonesia sebelum mengikuti rangkaian IFSC World Cup 2026.
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Yenny Wahid turut buka suara menanggapi viralnya pernyataan tersebut.
Ia mengakui pada awalnya memang belum ada kepastian dukungan pemerintah untuk keberangkatan Desak dan tim ke Polandia, sebagai dampak dari pemangkasan anggaran yang mencapai sekitar 70 persen.
"Jadi memang kan ini dampak dari pemotongan anggaran yang sampai 70%. Jadi semua jadi dikurangi budget-nya. Nah, cuma kita sudah memperjuangkan, dan dari Kemenpora juga mencoba membantu semampunya mereka," kata Yenny, Selasa (7/7/2026).
Yenny menjelaskan FPTI sempat menerima informasi bahwa pemerintah tidak dapat memberikan dukungan, sebelum akhirnya kepastian bantuan turun beberapa saat sebelum Desak dan rekan-rekannya berangkat.
Dukungan tersebut, menurutnya, juga akan berlanjut untuk keikutsertaan tim di kejuaraan dunia berikutnya di Chamonix, Prancis.
Meski begitu, ia belum dapat memastikan dukungan pemerintah untuk seri-seri Kejuaraan Dunia Panjat Tebing selanjutnya sepanjang 2026, karena masih menunggu keputusan dari Kementerian Keuangan.
Keterbatasan anggaran itu, kata Yenny, memaksa FPTI melakukan berbagai penyesuaian program pemusatan latihan nasional (pelatnas) agar pembinaan atlet tetap berjalan meski dengan fasilitas yang lebih terbatas dibanding sebelumnya.
"Kami bolak-balik dengan Kemenpora untuk memastikan bahwa pelatnasnya tetap jalan. Jadi, ya kami dari FPTI juga setengah mati ini kami harus mencari format baru untuk pelatnas, tidak bisa seperti dulu," ujarnya.
Terlepas dari tantangan pendanaan tersebut, medali emas yang direbut Desak di Krakow menjadi salah satu pencapaian membanggakan bagi olahraga panjat tebing Indonesia sepanjang musim kompetisi 2026.
Prestasi itu diharapkan turut mendorong perhatian lebih besar terhadap pembinaan atlet, sekaligus memastikan dukungan pendanaan dapat berjalan lebih pasti pada seri-seri kejuaraan dunia berikutnya yang masih akan diikuti tim Indonesia hingga akhir tahun
