JAKARTA – Aksi swadaya masyarakat memperbaiki Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menjadi sorotan publik.
Warga berhasil mengumpulkan lebih dari Rp1 miliar untuk memulihkan akses vital yang rusak akibat banjir dan longsor sejak November 2025.
Langkah tersebut memicu perhatian luas karena infrastruktur yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat itu tak kunjung diperbaiki, sehingga warga memilih bergotong royong menggunakan dana pribadi.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengapresiasi inisiatif masyarakat, namun menegaskan pemerintah tetap akan melakukan evaluasi terhadap kondisi jembatan.
"Ya, kita berterima kasih pasti. Tapi itu enggak cukup. Masih ada beberapa hal yang mesti kita tambahkan di situ. Besok saya ke Aceh untuk memastikan bahwa jalur jembatan itu masih layak dilewati," kata Dody.
Jembatan Enang-Enang merupakan akses utama masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, menuju sekolah, fasilitas kesehatan, dan menghubungkan kawasan dataran tinggi Gayo dengan wilayah pesisir Aceh.
Selama berbulan-bulan setelah bencana hidrometeorologi melanda Aceh pada akhir 2025, masyarakat harus memutar melalui jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, sehingga aktivitas ekonomi maupun sosial ikut terdampak.
Merasa tidak kunjung mendapatkan kepastian perbaikan, warga akhirnya menggalang donasi secara mandiri.
Dana yang terkumpul mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Sebagian dana telah digunakan untuk memperbaiki jalan dan jembatan, sedangkan sisanya disiapkan untuk membangun dinding penahan jalan, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya.
Inisiator pembangunan, Sahrial Abadi, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kebersamaan masyarakat yang ingin segera mengakhiri keterisolasian wilayah mereka.
"Jalan hari ini resmi kita buka, proses pengaspalan dan perbaikan jembatan sudah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Saat ini uang sejumlah Rp526.000.000 sudah terpakai, masih ada sisa sekitar Rp555.000.000 lagi yang belum terpakai nanti untuk pembangunan dinding penahan jalan, tempat ibadah dan fasilitas lainnya," ujarnya.
Fenomena swadaya di Bener Meriah tidak hanya terjadi di Jembatan Enang-Enang.
Sebelumnya, warga juga bergotong royong memperbaiki sejumlah ruas jalan rusak dan membangun jembatan darurat di beberapa kecamatan karena akses transportasi dinilai terlalu lama menunggu penanganan.
Kondisi tersebut sempat menghambat distribusi hasil pertanian serta meningkatkan risiko kecelakaan bagi masyarakat yang melintas.
Data Pos Komando Penanganan Bencana Aceh mencatat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 menyebabkan sedikitnya 166 jembatan rusak, 81 ruas jalan terdampak, 61 titik longsor, dan 27 lokasi banjir bandang.
Besarnya skala kerusakan menjadi tantangan dalam proses pemulihan, namun lambatnya penanganan terhadap sejumlah akses vital juga memunculkan kritik dari masyarakat yang berharap pemerintah lebih cepat merespons kebutuhan infrastruktur pascabencana.
Kasus Jembatan Enang-Enang menjadi potret kuat semangat gotong royong masyarakat Aceh.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pemulihan infrastruktur publik merupakan tanggung jawab negara, sehingga masyarakat tidak harus menanggung sendiri beban pembiayaan untuk memulihkan akses yang menjadi kebutuhan dasar kehidupan sehari-hari
