Jakarta – Hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan. Sejumlah pengamat menilai relasi kedua tokoh yang sebelumnya dikenal dekat mulai menunjukkan tanda-tanda perbedaan arah politik menjelang Pemilu 2029.

Pengamat politik, Ray Rangkuti, menilai hubungan Prabowo dan Jokowi saat ini belum sampai pada tahap perpecahan, namun sudah menunjukkan adanya keretakan. Menurutnya, dinamika tersebut telah terlihat dalam beberapa bulan terakhir dan berpotensi berkembang menjadi perbedaan sikap politik di masa mendatang.

“Saya kira sejak tujuh bulan lalu sudah mengisyaratkan keretakan. Belum pecah, tapi dia retak,” ujar Ray dalam sebuah diskusi politik, Rabu (15/7/2026).

Ray memprediksi perbedaan kepentingan politik antara kedua kubu berpotensi semakin terlihat menjelang Pilpres 2029. Ia menyebut kemungkinan Prabowo dan Jokowi dapat mengambil jalan politik yang berbeda apabila dinamika politik terus berkembang.

Salah satu indikator yang disorot adalah aktivitas politik Jokowi yang dinilai semakin intens di sejumlah daerah. Menurut Ray, langkah tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi politik dan menjaga pengaruh menjelang kontestasi politik mendatang.

Selain itu, Ray juga menyoroti posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam peta politik 2029. Ia menilai berbagai kemungkinan masih terbuka, termasuk skenario keberlanjutan koalisi maupun munculnya poros politik baru.

Meski demikian, isu keretakan hubungan Prabowo-Jokowi masih sebatas analisis politik dan belum terdapat pernyataan resmi dari kedua tokoh yang menyatakan adanya konflik terbuka. Sebelumnya, pihak terkait juga menyatakan komunikasi antara keduanya tetap berjalan.

Dinamika hubungan dua figur utama politik nasional ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik, terutama karena berkaitan dengan arah koalisi dan peta persaingan menuju Pemilu 2029.