Jakarta – Kementerian Agama menjadikan Muharram Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 Hijriah bukan hanya sebagai ajang memperkuat budaya literasi keagamaan, tetapi juga ruang promosi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama empat hari penyelenggaraan di Ciawi, Bogor, sebanyak 40 pelaku UMKM memamerkan beragam produk, mulai dari kuliner, fesyen muslim, hingga wastra Nusantara.

Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama, Helmi Nasaruddin Umar, mengatakan pelibatan UMKM merupakan bagian dari upaya menghubungkan literasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Festival ini bukan sekadar pameran buku atau ruang diskusi. Kami ingin menunjukkan bahwa literasi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui UMKM," kata Helmi saat penutupan Milfest, Ahad, 2 Agustus 2026.

Menurut Helmi, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran. Dari total peserta, 12 stan diisi oleh pelaku UMKM penyandang disabilitas.

Ia menilai pemberian ruang kepada penyandang disabilitas merupakan bentuk komitmen Kementerian Agama dalam mendorong ekonomi yang inklusif.

"Kami ingin semua kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Kehadiran UMKM penyandang disabilitas menjadi bukti bahwa festival ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berkarya," ujarnya.

Helmi juga mengatakan semangat Muharam seharusnya menjadi momentum membangun kembali budaya membaca di tengah masyarakat. Menurut dia, literasi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami perubahan sosial dan menyaring informasi di era digital.

"Literasi hari ini bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca realitas, membaca perubahan zaman, dan membangun cara berpikir yang kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan," katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan menggabungkan penguatan literasi, pemberdayaan keluarga, pengembangan ekonomi kreatif, serta promosi produk lokal.

"Melalui festival seperti ini kami ingin membangun ekosistem yang saling menguatkan antara literasi, ekonomi kreatif, dan nilai-nilai keagamaan sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," papar Helmi.