Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Rabu (29/7/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka melemah 26 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp18.109 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup turun 74 poin atau 0,41 persen ke level Rp18.083 per dolar AS.

Pelemahan mata uang Garuda ini sejalan dengan tren penguatan dolar AS di pasar global.

Dolar AS bertahan mendekati level tertinggi dalam sekitar satu bulan terakhir, didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, sekaligus sikap wait and see pelaku pasar menjelang pengumuman hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin berada di kisaran 33 persen.

Indeks dolar AS tercatat berada di level 101,43, sementara yen Jepang ikut melemah ke posisi 163,88 per dolar AS.

Sejumlah mata uang utama dunia lainnya turut mengalami tekanan serupa. Euro bertahan mendekati level terendah dalam sebulan terakhir di kisaran 1,1386 dolar AS setelah terkoreksi sekitar 0,3 persen sepanjang bulan ini.

Pound sterling Inggris juga melemah 0,06 persen ke posisi 1,3282 dolar AS, mendekati level terendahnya sejak awal Juli 2026. Sementara itu, dolar Australia relatif stabil di 0,6973 dolar AS, dan dolar Selandia Baru melemah 0,09 persen ke 0,5782 dolar AS.

Analis pasar di IG, Fabien Yip, menilai bank sentral AS masih memerlukan lebih banyak bukti sebelum dapat memastikan durasi tekanan inflasi.

"The Fed membutuhkan lebih banyak indikasi mengenai berapa lama risiko inflasi bertahan," ujar Yip.

Ia menambahkan, dolar AS berpotensi tetap kuat selama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut, mengingat kebijakan moneter AS saat ini dinilai masih relatif lebih ketat dibandingkan sejumlah bank sentral utama lainnya.

Di dalam negeri, dinamika kepemimpinan di Bank Indonesia turut menjadi salah satu perhatian pasar.

Pelaksana tugas Gubernur BI, Destry Damayanti, meminta pelaku pasar untuk tidak bereaksi berlebihan menyikapi dinamika tersebut.

Bank Indonesia tercatat telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026, sebelum akhirnya memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada rapat dewan gubernur bulan Juli, seraya menempuh langkah intervensi pasar valuta asing yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas nilai tukar.