Ngawi - 4 siswa SMK PPS 1 Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mengalami mual, pusing hingga muntah setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin, 10 Agustus 2026. Satu siswa masih menjalani perawatan di klinik hingga laporan dibuat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Actvisit.id, kejadian bermula sekitar pukul 09.00 WIB. Sebanyak 137 porsi MBG dikirim ke SMK PPS 1 Ngrambe dari SPPG Ngrambe 1 yang berlokasi di Dusun Pule, Kecamatan Ngrambe. Menu hari itu terdiri atas ayam mentega, tahu goreng, jeruk, serta tumis jamur, wortel dan jagung.
Sekitar pukul 09.20 WIB, siswa mulai menyantap makanan tersebut di dalam kelas. Mereka kemudian kembali mengikuti pelajaran sekitar pukul 10.00 WIB. Pada saat kegiatan belajar berlangsung, sejumlah siswa kelas 10A Otomotif mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka.
4 siswa dilaporkan mengalami gejala berbeda. Adiyya Tama Putra mengalami mual, muntah dan pusing. Tiga siswa lainnya, Fari Bagas Ardiyansyah, Guntur Chazafani Radiva dan Amiril Nizam, mengalami mual dan pusing.
Laporan mengenai kondisi siswa kemudian diterima koordinator MBG SMK PPS 1 Ngrambe, Prasiwi. Pihak sekolah selanjutnya menghubungi SPPG Ngrambe 1. Asisten Lapangan SPPG Ngrambe 1, Eko, kemudian membawa keempat siswa untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Tempat praktik dokter Fuad yang menjadi tujuan awal ternyata tutup. Keempat siswa akhirnya dibawa ke Klinik Aisyah, Desa Tulakan, Kecamatan Sine. Mereka tiba sekitar pukul 12.00 WIB dan langsung mendapat pemeriksaan dari dokter jaga, dr. Umi, sebelum penanganan dilanjutkan oleh dr. Rhea.
Sekitar pukul 12.30 WIB, 3 siswa diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis. Adiyya Tama Putra belum diperbolehkan pulang karena kondisinya masih lemas dan sebelumnya mengalami muntah saat berada di sekolah.
Yang menjadi perhatian dalam kejadian ini adalah jeda waktu antara konsumsi makanan dan munculnya keluhan. Makanan dibagikan sekitar pukul 09.20 WIB, sedangkan keluhan mulai dirasakan siswa ketika pelajaran kembali berlangsung. Namun, hubungan antara konsumsi MBG dan gejala yang dialami siswa belum dapat dipastikan hanya berdasarkan urutan waktu tersebut.
Dari laporan yang diterima, belum ada keterangan mengenai hasil pemeriksaan terhadap makanan yang dibagikan, termasuk apakah sampel makanan telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Belum pula diketahui apakah seluruh 137 siswa yang menerima menu tersebut mengonsumsi makanan dengan komposisi yang sama dan apakah terdapat siswa lain yang mengalami keluhan serupa.
Kondisi ini membuat penelusuran terhadap seluruh rangkaian penyediaan MBG menjadi penting, mulai dari proses pengolahan di SPPG Ngrambe 1, waktu makanan didistribusikan, kondisi makanan ketika tiba di sekolah, hingga makanan dikonsumsi siswa.
Untuk sementara, 4 siswa telah mendapat penanganan medis dan tiga di antaranya telah diperbolehkan pulang. Satu siswa masih menjalani perawatan. Dugaan bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan konsumsi MBG masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan penelusuran lebih lanjut.
