Jakarta - Dominasi PT Astra International Tbk di industri otomotif nasional kembali menjadi sorotan. Kali ini, Forum Asta Cita Center mendesak Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita segera memanggil manajemen Astra untuk mempertanggungjawabkan arah transformasi bisnis perusahaan di tengah tuntutan percepatan transisi energi nasional.

Desakan tersebut muncul karena Astra dinilai memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap arah industri otomotif Indonesia. Dengan pangsa pasar kendaraan roda empat dan roda dua yang mendominasi, setiap kebijakan bisnis perusahaan disebut akan berdampak langsung terhadap keberhasilan pemerintah menekan emisi gas rumah kaca.

Pengamat Kebijakan Publik Forum Asta Cita Center, Rudi Banu Wibowo, menilai pemerintah tidak boleh membiarkan transformasi industri otomotif berjalan tanpa pengawasan yang ketat. Menurutnya, perusahaan dengan dominasi pasar sebesar Astra semestinya menjadi motor utama perubahan menuju kendaraan rendah emisi, bukan justru mempertahankan ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar fosil.

"Forum Asta Cita Center meminta Kementerian Perindustrian segera memanggil PT Astra International untuk menjelaskan roadmap transformasi bisnisnya. Pemerintah juga perlu mengevaluasi arah pengembangan industri otomotif agar benar-benar selaras dengan agenda transisi energi nasional," kata Rudi dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).

Rudi menegaskan, target pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri dan hingga 43,2 persen dengan dukungan internasional pada 2030 sebagaimana tertuang dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) tidak akan tercapai apabila transformasi sektor transportasi berlangsung lambat.

Menurutnya, sektor transportasi saat ini menyumbang sekitar 11,7 persen emisi gas rumah kaca nasional, dengan kontribusi terbesar berasal dari kendaraan bermesin pembakaran internal yang masih menggunakan bahan bakar bensin maupun solar.

Di sisi lain, Astra masih menguasai sebagian besar pasar otomotif nasional. Sepanjang 2024, perusahaan tersebut menjual sekitar 483 ribu mobil atau sekitar 56 persen dari total pasar nasional. Melalui PT Astra Honda Motor, penjualan sepeda motor mencapai sekitar 4,9 juta unit atau sekitar 78 persen pangsa pasar.

Memasuki 2025, dominasi tersebut diperkirakan belum berubah signifikan. Astra diproyeksikan masih menguasai sekitar 51 persen pasar mobil nasional dengan penjualan sekitar 410 ribu unit, sementara Astra Honda Motor diperkirakan tetap mempertahankan sekitar 78 persen pangsa pasar sepeda motor dengan penjualan mendekati 5 juta unit.

Besarnya penguasaan pasar itu, menurut Forum Asta Cita Center, membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih besar terhadap agenda dekarbonisasi nasional.

Rudi menilai mayoritas kendaraan yang dipasarkan Astra hingga kini masih mengandalkan mesin pembakaran internal. Kondisi tersebut dinilai menjadi indikator bahwa implementasi transisi energi di sektor otomotif masih berjalan lamban.

"Selama ini hilirisasi dan transisi energi jangan hanya berhenti sebagai slogan atau kampanye. Kami meminta Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berani memanggil PT Astra International dan mengevaluasi komitmen perusahaan terhadap agenda transisi energi nasional," tegasnya.

Desakan tersebut sekaligus menjadi sinyal agar pemerintah tidak hanya mendorong pertumbuhan industri otomotif dari sisi investasi dan penjualan, tetapi juga memastikan para pelaku usaha menjalankan transformasi menuju industri yang lebih ramah lingkungan sesuai target pembangunan rendah karbon yang telah ditetapkan pemerintah.